Jumat, September 05, 2008

Bercinta dengan Istri Temanku

Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai
dasar gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT
perusahaanku dan Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya
dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan acara bobo
siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor. Tetapi hari itu sebelum
aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk membicarakan proyek
komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung menemaniku
makan siang.

Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi
software dan juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku
sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi
kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat
pembicaraan kita berdua.



Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku
berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

“Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi” suara merdu terdengar
diseberang sana.
“Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih.
Bapak tunggu sebentar ya” jawabku.
“He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak” Santi menggoda.
“Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya” kataku sambil menutup
pembicaraan.
“Dari klien” kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh
mereka. Hal ini mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer
keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training
ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan
langsung menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku
tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka
kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju
tempat parkir untuk berangkat mengerjai istri orang he.. He..

Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi.
Hari sudah menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di
jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan
memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dia
tersenyum gembira melihat kedatanganku.

“Aih.. Pak Robert kok lama sih” katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga
nggak ada” candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju “you can see” nya yang memperlihatkan
lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya.
Mungkin karena sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara
suaminya aku “asingkan” di negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang
keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan
dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu setelah lelah terjebak
macet tadi. Dahagakupun langsung hilang, tetapi setelah melihat Santi
yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku masih bernafsu melihat
Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia.

Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan
membuka bajunya, dia menahanku.

“Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak”
“Apaan nih?” jawabku senang.
“Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.”

Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan,
saat dia sedang berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun
bercerita mengenai kehidupan seks mereka. Singkat cerita, Susan
menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.

“Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya
Pak Robert” kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.
“Saya sih OK saja” jawabku riang.
“Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku” kata Santi sambil
pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.

Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang.
Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di
rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi.
Santipun menjelaskan kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan
menyambut kami dengan ramah.

“Ini perkenalkan suami saya”

Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan
diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun
memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot
yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang
tergantung di dinding. Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena
orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali.
Terutama kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau
dihinggapi nyamuk, si nyamuk akan jatuh tergelincir. Disamping itu
bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar dan bentuk tubuh
yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film panas di jaman
tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor
ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam
itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk
mengikuti dia.

“Pak, habis ini pulang aja yuk” kata Santi berbisik perlahan setelah
keluar dari ruang makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak,
perutnya buncit lagi”.

Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui
permintaan Santi. Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik
sekali seperti boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk
membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang
untuk menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat
adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas
kristal sehingga pecah berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot
memarahi pembantunya itu, sedangkan si pembantu kecil itu tampak
ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.

Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai
mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak
ogah-ogahan melayaninya.

“Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu”

Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin
ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun
sebenarnya aku tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan
sudah sangat mengundang gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air
kecil, sehingga akupun pamitan ke belakang.

Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang
keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi
gadis kecil pembantunya tadi.

“Ampun non.. Sri nggak sengaja” si gadis kecil memohon belas kasihan
pada majikannya, Susan yang cantik itu.
“Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas
harganya lebih dari setahun gaji kamu tahu!!” bentak Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..”

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan
menampakkan kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan.
Mungkin betul kata orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat
seksualnya, cenderung menjadi pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan
juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi entah mengapa justru hasrat
birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya lemah lembut dapat
bersikap galak seperti itu.

“Dasar bedinde.. Verveillen!!” Susan masih terus berkacak pinggang
memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi,
kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan
hitam.
“Ampun non.. Nggak akan lagi non..”
“Oh Pak Robert..” kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur.
Diturunkannya tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.
“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu” jawabnya sambil
tersenyum manis.
“Yuk kita kembali” lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan
di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun
langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku melakukan “french kiss” dan
Susanpun menyambut penuh gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya
yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya
meremas-remas kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih
duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya
perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana
dalamku ke samping sehingga kemaluankupun mencuat keluar.

“Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..” katanya sambil
menjilat kepala kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa
ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh
kemaluan termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah
lakunya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum
dan menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti
seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus
rambutnya yang hitam dan diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat
handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan
cepat, dan tak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai
orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi
ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang
besar. Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya
jauh berbeda. Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak
Harry sangat kecil dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak
heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan
masih berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang
kemaluanku. Santi duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya
bajuku dan puting dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap
oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di
bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil
berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang sudah loyo.

Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di
depan wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara
tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih
mengulum dan menjilati kemaluanku.

Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia
kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak
tingginya saja yang masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan
padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku
terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada
Santi. Susan kemudian menghampiriku dan kamipun berciuman kembali dengan
bergairah.

“Ayo isap susu ik ” pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah
kanannya ke mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah
dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya.
Susanpun mengerang kenikmatan.

Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku.
Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang
berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas
kemaluanku menghadap suaminya yang masih berusaha membangunkan
perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat
menciumi kembali bibirnya dan wajahnya yang cantik itu.

“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke
dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah
dadanya dan sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah
zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang
dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya.
Setelah itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging
di sofa. Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia
“doggy-style” sampai kalung berlian dan buah dadanya yang besar
bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku dan
kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati dan mengulumnya.
Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.

“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That’s right.. Aha.. Aha..” begitu
erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu
menambah suasana erotis di ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya.
Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu.
Santipun mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa
aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati “istriku”.

Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali
kuremas buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat
Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya
missionary. Tak beberapa lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia
sudah mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih
menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu
kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan.
Sesekali kuciumi wajah dan buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya
yang sempit itu.

“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..” Susan terus meracau
kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban
birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan
kusuruh dia menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah
Pak Harry, dia sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku.
Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang
dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun
menelan spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung
berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.

“Thanks Robert.. I really enjoyed it” katanya sambil membersihkan bekas
spermaku di dadanya.
“No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much” balasku.

Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati
desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam
waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam
mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan
pengalamanku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al
Jarreau di tape mobilku.

“We’re in this love together..”
“Kenapa sih sayang?” tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau lagi deh” katanya.
“Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget.
Santi nanggung nih.”

Akupun tertawa geli mendengarnya.

“Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum
puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love” rengeknya.
“Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata Santi merengut manja.
“Besok khan masih ada sayang” hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..” rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”

Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya
saja aku segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi.
Setidak-tidaknya dia harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok
pagi saja aku akan menikmatinya kembali, karena Pak Arief toh masih
beberapa hari lagi di luar negeri.

Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku
masih dapat melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti.




0 komentar:

Pengunjung :

Jumlah Pengunjung Sejak 13 September 2008 :
Website counter
Tolong tinggalkan pesan di kolom pesan pengunjung ya

My Friend online :

Lintas Berita News :